Bagaimana Melihat Orang Miskin Hidup?


Seorang sastrawan Inggris, George Orwell menulis "Bagaimana Si Miskin Mati?" Saat ingat esai itu, kita malah berpikir "bagaimana si miskin hidup?". Orwel menulis judul esai itu karena ia berfokus kepada hidup orang-orang miskin yang tidak mendapatkan keadilan bahkan hingga menjelang ajalnya.

Bagaimana orang miskin hidup itu selalu menarik buat kita telaah. Bahkan jauh menarik dari cara bagaimana orang kaya hidup. Bukan karena kehidupan orang miskin yang memiliki daya tarik tersendiri apalagi eksotis. Jauh!

Orang-orang miskin menarik perhatian, karena di satu sisi mereka bertahan dalam kemiskinannya. Mereka begitu segan untuk keluar dari kemapanan atas roda kehidupan yang dialaminya. Berputar dalam lingkup terbatas dan tidak sempat membayangkan hidup dengan cara lain.

Terpasung dalam kemapanan adalah kata kunci dalam urusan ini. Upaya melepaskan kemapanan tersebut bisa dilakukan dengan cara mengajarkan mereka berubah dalam menghasilkan kenikmatan lain. Tentu dengan praktik nyata. Itu saja solusinya.

Butuh pihak luar dari mereka yang disebut miskin tersebut dalam memberikan suatu model baru kenikmatan. Contoh orang yang tidak biasa menggunakan WC, mereka harus diberi WC. Akhirnya kemapanan tidak biasa menggunakan WC akan dianggap tidak nikmat lagi dan mereka akan beralih kepada kenikmatan model baru, yaitu terbiasa menggunakan WC. Lebih beradab.

Jika mereka menganggap sesuatu yang biasa hari hari mereka tanpa makan buah, maka seringlah diajarkan untuk mengkonsumsi buah. Nantinya hidup tanpa mengkonsumsi buah akan dianggap sengsara. Sangat penting kehadiran pihak dari luar mereka untuk mengajarkan cara menikmati hal yang baru yang lebih beradab.

Duplikasi dan rajin mengevaluasi adalah cara yang baik untuk merubah mereka juga dengan intervensi langsung. Bukan sekali datang!

Perihal kemapanan dan perubahan adalah urusan naluri. Orang yang enggan berubah karena takut pada kehidupan yang berbeda dari sebelumnya. Maka, pilihannya seperti ini saja, di sini saja, begini saja, karena perubahan adalah situasi lebih mengancam dan tidak nyaman.

Sekali lagi, kemapanan adalah sumber bencana. Untuk itu kemapanan harus disentil agar bangkit lalu bergerak mengeluarkan energi terus menerus.

Di Indonesia, jumlah orang miskin dinyatakan dalam statistik sebesar 25 juta jiwa. Angka ini adalah standar minimalis yang dimapankan oleh negara (pemerintah). Sesungguhnya orang miskin di Indonesia berjumlah 120 juta jiwa (2024).

Komentar